Penafsiran Alkitab

Alkitab adalah Firman Tuhan. Tetapi beberapa penafsiran atas Alkitab bukanlah Firman Tuhan. Ada banyak kultus dan kelompok-kelompok Kristen yang memakai Alkitab dan mengklaim bahwa penafsiran merekalah yang paling tepat. Seringkali, penafsiran-penafsiran tersebut berbeda satu sama lain bahkan bisa sangat bertentangan. Hal ini tidaklah berarti bahwa Alkitab adalah dokumen yang membingungkan. Melainkan, masalahnya ada pada mereka yang menafsirkannya dan metode yang mereka pakai.

Karena kita adalah orang-orang berdosa, kita tidaklah mampu menafsirkan Firman Tuhan secara sempurna setiap saat. Tubuh, pikiran, keinginan, dan emosi kita dipengaruhi oleh dosa dan menyebabkan penafsiran yang akurat 100% adalah hal yang tidak mungkin kita lakukan. Hal ini tidaklah lalu berarti pemahaman yang akurat atas Firman Tuhan adalah hal yang tidak mungkin. Tetapi ini bermakna kita harus mendekati Firman-Nya dengan lebih hati-hati, rendah hati, dan menggunakan akal sehat. Lagipula, kita perlu bimbingan dari Roh Kudus dalam menafsirkan Firman Tuhan. Bagaimanapun, Alkitab itu diinspirasikan oleh Allah dan ditujukan kepada umat-Nya. Roh Kudus selalu membantu kita memahami makna dari Firman Tuhan dan bagaimana mengaplikasikannya.
Sebagai manusia, dalam rangka mengurangi kesalahan dalam penafsiran kita, kita perlu untuk memahami beberapa metode-metode dasar dalam menafsirkan Alkitab. Saya akan mendaftarkan beberapa prinsip-prinsip dalam bentuk pertanyaan, lalu menjawabnya satu persatu melalui contoh.

Saya menawarkan prinsip-prinsip berikut sebagai petunjuk dalam memeriksa suatu bagian Alkitab. Prinsip-prinsip ini tidaklah terlalu mendalam ataupun diset secara kaku.

  1. Siapakah yang menulis/ mengatakan bagian Alkitab ini dan kepada siapakah perkataan ini ditujukan?
  2. Apakah yang dikatakan oleh bagian Alkitab ini?
  3. Adakah kata-kata atau frasa di dalam bagian Alkitab tersebut yang perlu periksa secara seksama (karena kurang jelas maknanya)?
  4. Apakah konteks langsungnya?
  5. Apakah konteks yang lebih luas dalam pasal atau kesuluruhan kitab di mana bagian Alkitab tersebut berada?
  6. Apakah ayat-ayat yang berhubungan dengan pokok bahasan bagian Alkitab tersebut dan bagaimana efek dari ayat-ayat tersebut terhadap pemahaman atas bagian Alkitab tersebut?
  7. Apakah latar belakang sejarah dan kebudayaannya?
  8. Apakah yang dapat saya simpulkan dari bagian Alkitab ini?
  9. Apakah kesimpulan saya ini sesuai atau tidak dengan bagian-bagian lain Alkitab yang berhubungan dan pendapat orang lain yang telah mempelajari bagian Alkitab ini?
  10. Apakah yang telah saya pelajari dan harus saya terapkan dalam hidup saya?

Guna menunjukkan kepada anda bagaimana jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapat mempengaruhi penafsiran anda atas suatu bagian Alkitab, Saya telah memilih satu bagian Alkitab yang jika dipelajari secara baik-baik, akan menuntun anda pada penafsiran yang sangat berbeda dari yang biasa diterima orang. Saya membiarkan anda untuk menentukan apakah penafsiran saya ini akurat atau tidak.

Bagian yang akan saya pakai adalah Mat. 24:40, "Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;".

1. Siapakah yang menulis/ mengatakan bagian ini dan kepada siapakah perkataan ini ditujukan?

Yesus yang mengatakan kata-kata tersebut dan dicatat oleh Matius. Yesus mengatakannya kepada murid-murid-Nya sebagai reapons dari suatu pertanyaan, yang akan kita lihat nanti.

2. Apakah yang dikatakan oleh bagian Alkitab ini?

Bagian ini semata-mata hanya mengatakan bahwa ada satu dari dua orang yang di ladang yang akan dibawa. Tidak dikatakan ke mana, mengapa, kapan, atau bagaimana. Hanya dikatakan bahwa satu orang akan dibawa. Tidak dijelaskan apakah ladang itu milik seseorang atau berada di suatu lokasi tertentu.

3. Adakah kata-kata atau frasa di dalam bagian Alkitab tersebut yang perlu periksa secara seksama (karena kurang jelas)?

Tidak ada kata khusus dalam ayat ini yang jelas-jelas perlu diperiksa lebih jauh (sudah cukup jelas), tetapi demi keperluan latihan ini, saya akan menelaah kata"diambil". Dengan memakai Strong Concordance dan sebuah kamus kata-kata Perjanjian Baru (Vine's, contohnya), saya dapat mencek kata Yunani yang dipakai dan memahaminya. Bahasa Yunani yang dipakai di sini adalah paralambano. Artinya "1) membawa, membawa berikut orangnya  2) menerima sesuatu kiriman."

Satu hal yang perlu dijelaskan di sini adalah bahwa dalam mempelajari suatu kata, suatu kata itu baru memiliki makna ketika berada dalam konteks. Sebagai contoh, kata "kasih" dalam bahasa Yunaninya "agapao." Umumnya diartikan sebagai "kasih illahi." Hal ini jelas terlihat dalam pemakaiannya dalam Yohanes 3:16 . Bagaimanapun, kata yang sama dipakai oleh Yesus dalam Lukas 11:43 dengan arti yang berbeda.  Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.". Kata suka yang dipakai di sini adalah terjemahan dari bahasa Yunani "agapao." Dari konteksnya tampak jelas bahwa arti kata agapao di sini lebih cocok diartikan sebagai "total komitmen kepada."

Terus, kita juga haruslah berhati-hati jangan sampai memasukkan/ memaksakan makna kontekstual suatu kata dalam suatu kalimat tertentu ke kata yang sama dalam kalimat yang lain tanpa memperhatikan konteks barunya. Sebagai contoh: 1) Teruna itu masih hijau. 2) Pohon itu hijau. Kata hijau yang pertama bermakna "baru dan belum berpengalaman." Yang kedua bermakna warna hijau. Bisakah kita memaksakan makna kontekstual dari kalimat yang satu ke yang lain? Itu bukanlah ide yang baik.

4. Apakah konteks langsungnya?

Di sinilah ayat tersebut akan memiliki maknanya, konteks langsungnya adalah sebagai berikut: Mat. 24:37-42, "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. 38Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, 39dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. 40Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; 41Kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. 42Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang."

Secara langsung dapat kita lihat bahwa orang yang dibawa dalam ayat 40 adalah sejajar dengan orang yang dibawa pada ayat 39. Dan makna kata diambil pun sama.

Suatu pertanyaan lain patut ditanyakan. Siapakah yang dibawa dalam ayat 39? Apakah itu Nuh atau orang-orang yang sedang makan dan minum itu? Jawaban atas pertanyaan ini akan membantu kita memahami lebih baik makna dari bagian Alkitab ini. Karenanya, langkah penafsiran berikut akan sangat membantu kita.

5. Apakah konteks yang lebih luas dalam pasal atau kesuluruhan kitab di mana bagian Alkitab tersebut berada?

Suatu bagian Alkitab seharusnya dilihat dalam konteksnya, tidak hanya dalam konteks langsung dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, tetapi juga dalam konteks pasal di mana ia berada dan kitab di mana ia tertulis.

Pembahasan Kristus dari mana ayat kita diambil, dimulai dengan sebuah pertanyaan. Yesus yang baru saja meninggalkan bait Allah dan dalam ayat 2 mengatakan kepada murid-muridnya: "...sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan." Lalu di ayat ke 3 murid-murid bertanya kepada Yesus, "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?"  Yesus lalu melanjutkan dengan nubuat mengenai hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman. Ia berbicara mengenai Mesias palsu, penderitaan, matahari yang akan menjadi gelap, kedatanganNya yang kedua, dan mengenai dua orang di ladang di mana salah satu akan dibawa dan yang lain ditinggalkan.

Konteksnya menjadi jelas yaitu mengenai eskatologi. Artinya, bagian Alkitab ini berurusan dengan hal-hal akhir zaman, atau suatu waktu sesaat sebelum kembalinya Kristus untuk kedua kalinya. Kebanyakan orang berpikir bahwa Mat. 24:40 mengacu kepada rapture (pengangkatan) seperti yang dibicarakan pada  1 Tes. 4:16-17. Mungkin. Tetapi menarik rasanya untuk mencatat bahwa konteks dari ayat tersebut tampaknya menunjukkan seolah orang yang jahatlah yang akan diambil, bukan yang baik.

Lalu, saat ini mungkin anda berpikir bahwa metode pernafsiran ini sebenarnya tidak bagus-bagus amat. Bagaimanapun, ayat "satu dibawa, satu ditinggal" jelas-jelas mengenai rapture. Benar? Well, mungkin. Coba anda perhatikan, kita semua mendekati Alkitab dengan membawa serta praduga kita. Ada kalanya hal ini benar, ada kalanya salah. Kita harus selalu siap sedia mendapati bahwa apa yang kita pikirkan ternyata berbeda dengan apa yang dikatakan Alkitab. Jika kita tidak bersedia, maka kita adalah orang yang sombong. Dan Allah jauh dari orang yang sombong (Mazmur 138:6).

6. Apakah ayat-ayat yang berhubungan dengan pokok bahasan bagian Alkitab tersebut dan bagaimana efek dari ayat-ayat tersebut terhadap pemahaman atas bagian Alkitab tersebut?

Kebetulan ada ayat-ayat yang berhubungan, kenyataannya, suatu bagian lain Alkitab yang paralel dengan yang di atas dapat ditemukan dalam Lukas 17:26-27. "Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah kelak pada hari-hari Anak Manusia: 27mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan,sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua."

Segera kita temukan bahwa ayat-ayat yang berhubungan dalam Lukas ini sungguh mempengaruhi pemahaman kita mengenai ayat Matius yang kita bahas di atas. Tampak jelas dari ayat-ayat dalam Lukas ini bahwa mereka yang akan dibawa oleh banjir adalah mereka yang makan minum dan kawin mengawinkan itu. Dengan kata lain, bukan anak Tuhan yang akan diambil, tetapi mereka yang fasik.

Seperti yang dapat anda lihat, hal ini memiliki akibat yang besar pada bagaimana kita memahami bagian Alkitab di Mat. 24:40. Apakah konteks yang ada sungguh-sungguh menunjukkan bahwa orang yang ada di ladang yang akan dibawa itu adalah mereka yang jahat? Juga, bagaimanakah akibat yang dibawa oleh konteks ini atas praduga saya sebelumnya? Mari kita baca sekali lagi ayat tersebut dalam konteknya. Mat. 24:37-42,"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. 38Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, 39dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. 40Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; 41Kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. 42Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang."

Jadi bagaimana pendapat anda sekarang? Apakah yang akan dibawa itu yang baik atau yang jahat? Lalu, apakah ayat ini mengacu kepada rapture atau tidak?

Hanya sekedar bertanya.

Bagian yang berhubungan lainnya adalah Mat. 13:24-30 di mana Yesus memberikan perumpamaan mengenai penabur yang menabur benih yang baik pada ladangnya dan seseorang yang lain menabur ilalang pada ladang yang sama. Pembantu-pembantu bertanya kepada tuannya apakah mereka harus segera menuai gandumnya. Tetapi, dalam ayat 30, Yesus berkata, "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu ituaku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

Hal yang patut dicatat di sini adalah bahwa yang pertama-tama dikumpulkan adalah ilalang-ilalang, bukan gandum. Hal ini sangat menarik karena Yesus menjelaskan perumpamaan ini dalam Mat. 13:36-43 dan menyatakan bahwa mereka akan dilempar ke dalam tungku pembakaran.

Tambahan lagi, ketika kita kembali ke Lukas 17:1, yang merupakan ayat paralel dari Mat 24, kita mendapati bahwa murid-murid bertanya kepada Yesus suatu pertanyaan yang dijawab oleh pernyataan Yesus "Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." Dalam ayat ke 37 Kata mereka kepada Yesus:"Di mana, Tuhan?". Kata-Nya kepada mereka:"Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar"

Mereka akan dibawa ke tempat maut.

7. Apakah latar belakang sejarah dan kebudayaannya?

Pertanyaan ini lebih sulit dijawab. Dibutuhkan lebih banyak riset. Komentari-komentari layak dipelajari di sini karena komentari umumnya menyediakan latar belakang sejarah dan kebudayaan yang akan membantu mengungkapkan makna suatu teks.

Dalam konteks ini, Israel sedang dalam penjajahan Romawi. Mereka telah dilarang memakai hak atas hukum yang utama, pemerintahan sendiri, dan dikebiri dari kemampuan berperang. Romawi telah mendominasi negara kecil tersebut. Yudaisme ditolerir oleh para pemimpin Romawi. Lagipula, bagi mereka Israel hanyalah suatu negara kecil yang jauh dan penduduknya sangat fanatik dengan agama mereka. Jadi, Romawi memperbolehkan Israel untuk dipimpin oleh boneka politik yang berasal dari orang Yahudi sendiri.

Bait Allah adalah tempat pemujaan bagi komunitas Yahudi. Di sanalah darah korban dicurahkan oleh imam agung untuk penebusan seluruh bangsa. Dibutuhkan 46 tahun untuk membangun bait tersebut (Yohanes 2:20). Yesus mengatakan bahwa bait tersebut akan dihancurkan, pernyataaan ini kemudian memunculkan pertanyaan yang pada gilirannya membawaNya memberi penjelasan yang salah satunya adalah bagian yang sedang kita telaah ini.

Dari segi kebudayaan, orang Yahudi sangat taat kepada Perjanjian Lama. Di antara halaman-halaman perjanjian lama terdapatlah nubuat mengenai Mesias, mengenai akhir zaman, dan pelepasan dari pembelengguan.  Orang Yahudi tahu akan hal tersebut dan mereka sedang dalam situasi menantikan hal itu terjadi.  Lalu datanglah Yesus dengan segala mukjizat dan Firman yang penuh kuasa.  Semestinya, mereka menganggap dia sebagai Sang Mesias itu.

8. Apakah yang dapat saya simpulkan dari bagian Alkitab ini?

Karena konteks dari bagian Alkitab yang ada menunjukkan bahwa mereka yang jahatlah yang akan dibawa, saya akan menyimpulkan bahwa orang yang akan dibawa dari ladang adalah bukan yang baik, tetapi orang yang jahat. Saya juga menyimpulkan bahwa orang jahat tersebut dibawa ke tempat penghakiman.

9. Apakah kesimpulan saya ini sesuai atau tidak dengan bagian-bagian lain Alkitab yang berhubungan dan pendapat orang lain yang telah mempelajari bagian Alkitab ini?

Saya telah mempresentasikan ayat-ayat lain yang kiranya berhubungan dengan bagian Alkitab yang kita bahas di atas. Bagaimanapun, tidak terdapat kesepakatan mengenai ayat tersebut dalam semua komentari yang pernah saya baca. Pada titik ini saya harus menyampaikan kesimpulan saya guna melihat apa kira-kira pendapat orang lain mengenai kesimpulan saya itu. Walaupun saya mempelajari Firman dan mendapatkan kesimpulan tidaklah otomatis berarti kesimpulan saya itu benar. Tetapi tidak pula berarti salah.

Dengan konsultasi dengan orang lain, mempelajari lagi kata-kata dalam ayat tersebut, dan mencari Allah dan penerangannya, saya hanya bisa berharap akan bisa sampai kepada kesimpulan terbaik yang mungkin dibuat atas bagian Alkitab tersebut.

10. Apakah yang telah saya pelajari dan harus saya terapkan dalam hidup saya?

Penafsiran Alkitab memiliki tujuan: Memahami Firman Allah dengan lebih akurat. Dengan pemahamanan yang lebih baik akan FirmanNya, kita dapat menerapkannya dengan lebih akurat dalam bidang-bidang yang disinggung oleh ayat atau bagian Alkitab tersebut. Dalam kasus ini, bagian Alkitab ini berhubungan dengan hal-hal masa yang akan datang dan mengenai penghakiman. Itu adalah informasi yang disampaikan oleh Yesus yang Ia ingin kita ketahui. Aplikasi dari bagian Alkitab tersebut adalah Allah akan menjatuhkan hukuman atas ketidakbenaran pada akhir zaman.

Catatan kesimpulan:

Artikel ini hanyalah ilustrasi. Ini hanyalah dasar dan tidak mencakup keseluruhan poin-poin dalam penafsiran Alkitab. Tetapi ini memberikan arah dan contoh mengenai bagaimana anda bisa mengaplikasikannya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, berdoalah. Baca FirmanNya. Lihatlah ke dalam FirmanNya semampu yang anda bisa dengan menggunakan sebanyak mungkin pemahaman dan kemampuan yang ada. Rendah hatilah dan ujilah segala sesuatu dengan Alkitab.

Satu hal lagi: setujukah anda dengan kesimpulan saya?

 

 

 

 
 
CARM ison