Hipotesa Dokumentari dari Pentatuk alias Teori JEDP

Beberapa kritikus Alkitab telah muncul dengan argumen-argumen yang canggih dalam upaya mereka untuk meruntuhkan otentisitas dan keandalan dari Alkitab. Salah satu argumen mereka adalah yang dikenal dengan nama Hipotesis Dokumentari (Documentary Hypothesis), atau teori JEPD (JEPD theory). Singkatnya, teori ini menyatakan bahwa kelima buku pertama dari Alkitab, yang disebut juga Pentatuk (Pentateuch) yang terdiri dari Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, tidaklah ditulis semuanya oleh Musa, (yang mati pada 1451 S.M menurut Kronologi Uskup Ussher), tetapi juga oleh penulis-penulis lain sesudah Musa (post-mosaik). Katanya, kehadiran berbagai penulis ini dapat dideteksi dari berbagai variasi pemakaian ragam kata yang berbeda-beda di antara kelima kitab tersebut. Pengarang-pengaran post-mosaik ini dikenal dengan nama Jehovist, Elohist, Priestly, dan Deuteronomist (JEPD).

Jika anda belum tahu, YHWH (bukan JEDP) adalah empat huruf yang dipakai untuk merepresentasikan nama Allah dalam Perjanjian Lama. Dari YHWH kita mendapatkan kata Yehovah, nama dari Allah, seperti yang disebut dalam Keluaran 3:14. Kata "elohim" dalam bahasa Ibrani berarti 'allah'. Jadi, YHWH adalah nama dari Allah (elohim).

Menurut Oswald T. Allis ada 4 area utama yang dipertimbangkan oleh para kritikus itu dalam menyokong ide Hipotesis Dokumentari mereka:1

  1. Variasi-variasi nama Allah dalam kitab Kejadia;
  2. Variasi-variasi sekunder dalam diksi (pemilihan kata) dan gaya penulisan;
  3. Bagian-bagian yang bersifat paralel atau tulisan yang berduplikasi (Doublets);
  4. Kontinuitas dari berbagai sumber.

Satu dari, walau bukan yang paling awal, pendekatan yang demikian terhadap Alkitab adalah yang dilakukan oleh H.B. Witter pada awal 1700-an yang menyatakan bahwa ada dua catatan yang paralel mengenai cerita penciptaan yang dapat dibedakan dari kata-kata yang dipakai dalam teks-teks tersebut.

Metode analisa ini dapat dilacak hingga ke akarnya di tahun 1753 ketika seorang dokter Prancis bernama Austruc menganalisa kitab Kejadian dan menyatakan bahwa kitab ini memiliki 2 sumber: seorang Jehovist dan seorang Elohist. Bagaimanapun, pada waktu itu ia tidak menolak kepengarangan Musa dalam Pentatuk.

Apa yang terkandung dalam analisa ini adalah asumsi bahwa bilamana kata Yehovah muncul dalam jumlah besar pada bagian tulisan tertentu, itu adalah karena bagian itu ditulis oleh seorang penulis yang suka memakai kata "Jehovah" atau kata YHWH alias si Jehovist. Demikian juga, bilamana kata Elohim muncul secara terus menerus, itu pasti adalah hasil karya seorang Elohist, atau seseorang yang lebih sering memakai kata itu lebih daripada orang lain.

Orang lain yang juga memakai metode ini adalah Eichhorn yang anailisisnya pada tahun 1787 mirip dengan analisa Austruc. Bagaimanapun, tak seorang pun dari kedua orang ini yang menolak kepengaran Musa dan tidak satu pun yang membawa analisa tersebut hingga ke kitab Keluaran.

Beberapa tahun kemudian, seseorang yang bernama De Wette (1805), mengatakan bahwa kitab Ulangan ditulis pada masa Yosua (periode sesudah Musa). Hal ini segera mendapat reaksi menentang dari penulis-penulis lainnya. Dalam tahun 1823 Eichhorn bahkan menolak kepengarangan Musa atas seluruh Pentatuk.

Huruf-huruf dari JEPD yang berhubungan dengan isu ini adalah J dan E.

Hupfeld

Pada tahun 1853, Hupfeld mengajukan bahwa ada dua dokumen yang bersumber dari Elohist dalam kitab Kejadian, yaitu: pasal 1-19 oleh pengarang Elohist pertama dan pasal 20 - 50 oleh pengarang lainnya. Ia juga menekankan pentingnya peran seorang redaktur, atau seseorang yang mengumpulkan berbagai tulisan, yang memakai haknya untuk mengedit tulisan-tulisan ini dalam upaya menyusun kitab Kejadian. Karenanya, urut-urutan dokumen dari kitab Kejadian menurutnya adalah: Elohist pertama, Elohist kedua, Jehovist, Deuteronomist: J, E, dan D.

Graf-Wellhausen

Belakangan, Karl H. Graf di tahun 1860-an dan Julius Wellhausen dalam tahun 1870-an mengatakan bahwa "menurut kitab-kitab sejarah dan nubuat dalam Perjanjian Lama, peraturan-peraturan imamat di bagian tengah dari kitab-kitab Pentatuk adalah peraturan yang belum dikenal pada masa sebelum masa pengasingan (pembuangan bangsa Israel ke Babel), karenanya peraturan-peraturan ini mestinya berasal dari perkembangan yang lebih belakangan (ditambahkan oleh orang lain di kemudian hari ke dalam Pentatuk)."2 Huruf P muncul sehubungan dengan pendapat ini.

Mereka mengurutkan penulisan kitab-kitab Pentatuk dalam urutan sebagai berikut:

  1. "Bagian paling awal dari Pentatuk berasal dari dua dokumen original yang berbeda, yaitu Jehovist (850 S.M.) dan Elohist (750 S.M.).
  2. Dari keduanya Jehovist-lah yang melakukan pekerjaan kompilasi kedua dokumen itu (650 S.M.).
  3. Kitab Ulangan ditulis di jaman Yosua dan pengarangnya menggabungkan karyanya itu dengan karya Jehovist.
  4. Peraturan imamat dalam dokumen Elohist sebagian besar adalah karya Ezra dan direferensikan sebagai dokumen Priestly. Seorang atau beberapa editor belakangan merivisi kembali tumpukan dokumen yang campur-aduk itu pada tahun 200 S.M. untuk membentuk Pentatuk seperti yang kita kenal hari ini."3

Kami telah memodifikasi sedikit daftar di atas, tetapi daftar ini pada dasarnya sama dengan yang diyakini oleh penganut Hipotesis Dokumentari.


Ke Menjawab Hipotesis Dokumentari

  • 1. Oswald T. Allis, The Five Books of Moses, Presbyterian and Reformed Publishing Co., Phillipsburg, New Jersey, 1949, p. 22.
  • 2. Ibid., p. 17.
  • 3. Josh McDowell, More Evidence That Demands a Verdict, Here's Life Publishers, Inc. 1981, p. 45.

 

 

 

 
 
CARM ison