Pertanyaan-Pertanyaan dan Keberatan-Keberatan Bagian 4

Bagian 1 Bagian 2 Bagian 3

  1. Mengapa ada kejahatan dan kesengsaraan dalam dunia?
    1. Pertanyaan ini mengasumsikan bahwa jika Allah yang baik memang ada, maka kejahatan seharusnya tidak ada karena Allah yang maha bisa akan menghentikan kejahatan itu.
    2. Sebelumnya kita perlu bertanya dan menjawab dua pertanyaan. Pertama, apa itu kejahatan? Kejahatan adalah apa saja yang menentang Allah. Yakni segala yang salah atau jahat secara moral. Yang bersifat mencedarai, merusak, dan jahat. Contoh yang gampang adalah pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, penipuan, dan kecurangan. Kedua, jika kita menginginkan Allah menghentikan kejahatan, apakah kita menginginkan Allah menghentikan semua kejahatan atau hanya sebagian kejahatan? Jika hanya sebagian saja, mengapa? Jika kita ingin menghapus seluruh kejahatan di muka bumi, maka kita harus bertanya, "Mengapa ada kejahatan di muka bumi ini?".
      1. Misalkan saja, ada seseorang yang berniat bunuh diri. Berdasarkan asumsi anda, Allah harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya, mungkin dengan berbisik ke telinganya, atau jika hal itu tidak berhasil Allah harus melakukan hal yang lebih drastis untuk menghentikannya, seperti menjatuhkan sesuatu ke atas kepalanya, atau menghentikan jantungnya, atau mendadak melumpuhkan tangannya. Pokoknya, Allah harus melakukan sesuatu.
      2. Bagaimana jika seseorang ingin mencuri? Allah juga harus menghentikannya, bukan? Tidak diragukan lagi, Allah pasti bisa menggunakan cara yang lebih praktis dari yang dapat saya pikirkan, tetapi hasilnya tetap sama, si orang ini batal mencuri.
      3. Bagaimana jika ingin berbohong? Jika ada seseorang yang ingin mengatakan kebohongan, supaya konsisten dengan asumsi saudara di atas, bukankah Saudara mengharapkan Allah juga langsung menghentikan orang itu dari berbohong? Pokoknya, menurut Saudara Allah tidak boleh membiarkan kejahatan terjadi, bukan?
      4. Mari berandai-andai lebih jauh lagi. Misalkan seseorang sedang memikirkan sesuatu yang jahat. Tentu saja, Allah harus menghalanginya dari berpikir hal yang jahat pula, supaya konsisten dengan asumsi Saudara di atas, bukankah begitu? Hasil akhirnya adalah bahwa Allah tidak boleh membiarkan siapa pun berpikir secara bebas. Karena semua orang selalu berpikir, dan tidak semua pikiran orang itu bersih, maka Allah akan cukup sibuk dan kita tidak bisa berpikir sama sekali.  Lalu, pada level mana kita harus membatasi tindakan Allah mencegah, pada level pembunuhan, pencurian, berbohong, atau berpikir tentang kejahatan? Sebagaimana yang diasumsikan oleh pertanyaan Saudara, jika Saudara ingin Allah menghentikan kejahatan, Saudara harus konsisten dan menginginkan agar Dia juga melakukan itu di setiap waktu dan tempat, tanpa pandang bulu. Hal itu tidak mungkin.
      5. Kejahatan ada di muka bumi ini sebagian karena kita yang memberinya tempat, tetapi yang utama adalah karena Allah, dalam kekuasaan-Nya, mengijinkan itu terjadi dan menjaganya dalam kontrol-Nya.
      6. Lalu Saudara akan berkata, "Tidakkah Ia sanggup menjadikan kita sempurna saja sehingga kita tidak mungkin berbuat dosa?" Ia telah melakukannya. Ia telah membuat malaikat yang sempurna, Setan, tetapi ia tetap mau berdosa. Ia telah membuat pria yang sempurna, Adam, tetapi ia tetap mau berdosa. Ia telah membuat perempuan yang sempurna, Hawa, tetapi ia juga mau berdosa. Allah tahu apa yang dilakukan-Nya. Ia membuat kita sebagaimana adanya kita ini karena ada maksud tertentu. Kita tidak mungkin memahami sepenuhnya maksud itu, tetapi Ia tahu.
    3. Allah itu berkuasa; Ia memiliki hak untuk melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya; Ia berhak mengijinkan kejahatan untuk mencapai kehendak-Nya yang ultimat (paling tinggi). Bagaimana Ia melakukannya? Gampang, lihatlah peristiwa penyaliban. Dengan memakai cara-cara jahat, manusia telah berbohong dan menyalibkan Yesus. Tetapi Allah dalam kebijakan-Nya yang tidak terbatas memakai kejahatan ini untuk kebaikan. Di atas salib itulah Yesus menanggung dosa-dosa kita di atas tubuh-Nya (1 Petrus 2:24) dan karena saliblah kita dapat memperoleh pengampunan dosa.
    4. Ambil contoh Yusuf dalam Perjanjian Lama. Ia telah dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Meskipun mereka melakukan hal itu untuk kejahatan, tetapi Allah mereka-rekakan hal itu untuk kebaikan (Kejadian 50:20). Allah itu begitu besar hingga tidak ada suatu apa pun yang terjadi tanpa ijin-Nya, dan dengan ijin-Nya itu, rencara agung-Nya dibukakan. Dalam rencana-Nya Ia mampu memakai apa yang direncanakan manusia untuk kejahatan menjadi hal yang berguna untuk kebaikan. Allah memegang kendali.
  2. Apa yang membuat Yesus pantas dianggap spesial? 
    1. Siapa diri-Nya seperti yang dikatakan-Nya sendiri. Ia berkata bahwa Ia adalah Allah. Dalam Yohanes 8:58, Yesus berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Ketika Ia berkata, "Aku telah ada," (merupakan terjemahan yang kurang tepat dari bahasa Yunaninya: Ego Eimi yang sesungguhnya berarti "Aku adalah Aku") Ia sesungguhnya mengucapkan hal yang sama dengan ayat yang tertulis dalam Perjanjian Lama: Keluaran 3:14. Ayat ini berlatar belakang ketika Musa sedang berbicara kepada Allah dan menanyakan nama-Nya. Allah menjawab dan berkata, "Aku adalah Aku." Ketika Yesus mengatakan "Aku telah ada" atau sebenarnya "Aku adalah Aku", Ia telah mengklaim nama Allah sebagai nama-Nya dan karenanya telah mengklaim bahwa Ia adalah Allah. Orang-orang besar lain dalam sejarah selalu memperkenalkan suatu filosofi baru dan mengajarkan ide-ide yang baik. Hanya Yesus yang memerkenalkan Diri-Nya sendiri, dan mengklaim bahwa Ia adalah Allah, dan berbicara dengan otoritas yang sejalan dengan klaim-Nya itu.
    2. Apa yang telah Ia lakukan. Yesus mengampuni dosa-dosa (Lukas 5:20). Ia bangkit dari kematian (Lukas 24; Yohanes 2:19-21), membangkitkan orang lain dari kematian (Yohanes 11:43-44), dan Ia berjalan di atas air (Yohanes 6:19). Tak seorang pun yang pernah hidup di muka bumi ini yang pernah melakukan hal yang pernah dilakukan-Nya selain Dia sendiri. Yesus sungguh spesial, hal ini tidak bisa diragukan lagi.
  3. Mengapa Yesus harus mati agar supaya saya bisa masuk surga? 
    1. Sebab upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Meskipun Yesus tidak pernah berbuat dosa (1 Petrus 2:22), Ia telah menanggung dosa-dosa kita di atas tubuh-Nya di kayu salib (1 Petrus 2:24) lalu mati. Ia mati untuk menggantikan kita. Allah tidak memaksa kita membayar upah dosa-dosa kita, melainkan Ia membayarnya sendiri dengan menjadi salah satu dari kita.
    2. Dua hal terjadi ketika kita berdosa: satu terhadap Allah dan satu lagi terhadap kita sendiri.  Ketika kita berdosa, Allah diserang. Mengapa? Karena Hukum-Nyalah yang kita langgar. Lagipula, ketika kita berdosa, kita dibunuh. Kita tidak langsung mati di tempat, tetapi kita akan menghadapi kematian yang jauh lebih mengerikan. Dosa membunuh kita (Roma 6:23) dengan membawa keterpisahan abadi dari Allah (Yesaya 59:2). Allah membenci dosa (Habakuk 1:13) dan dosa harus dihukum. Karena kita tidak mampu menyenangkan hati Allah sebab kita ini orang-orang berdosa, maka Ia harus membuat pengorbanan yang sanggup menyenangkan hati-Nya. Pengorbanan ini adalah dengan mengorbankan Yesus di atas kayu salib. Tidak ada jalan lain. Jika ada, pasti Allah telah melakukan-Nya.
  4. Bagaimana anda bisa yakin bahwa Alkitab itu Firman Allah? 
    1. Nubuat. Perjanjian Lama telah ditulis sebelum Yesus dilahirkan. Perjanjian Lama ditulis oleh orang-orang yang kenal pada Yesus, yang telah menjalani hidup bersama kehadiran-Nya, makan dengan-Nya dan belajar dari Dia.  Dalam Perjanjian Lama terdapat nubuatan mengenai tempat kelahiran-Nya (Mikah 5:1-2), mengenai Ia akan dilahirkan oleh seorang perawan (Yesaya 7:14), bahwa Ia akan ditolak oleh orang-orang-Nya sendiri (Yesaya 53:3), bahwa Ia akan dikhianati oleh teman dekat-Nya (Yesaya 41;9), bahwa Ia akan mati dengan tangan dan kaki-Nya tertusuk (Mazmur 22:16-18), dan bahwa Ia akan bangkit dari kematian (Mazmur 16:10, 49:15). Dalam Perjanjian Baru semua nubuat ini, dan masih banyak lagi, digenapi oleh Yesus. Sekarang, ini adalah pertanyaan yang harus Saudara jawab: "Jika Alkitab tidak diinspirasikan oleh Allah, mengapa ia memiliki begitu banyak nubuat yang digenapi?" Bagaimana hal ini mungkin jika Alkitab bukan dari Allah?       Hanya Allah yang mengetahui masa depan, berkuasa atas masa depan, dan memberitahukan kepada kita apa yang akan terjadi secara tepat. Di dalam Alkitab kita memiliki sidik jari Allah: Nubuatan yang tergenapi!
    2. Kebijaksanaan. Alkitab penuh dengan kebenaran mengenai manusia dan Allah, dosa dan keselamatan. Khotbah di bukit (Matius 5) sangat indah dalam kebijaksanaannya, kesederhanaannya, dan kasihnya. Mazmur adalah puisi yang luar bisa dalam dan indah. Surat-surat dalam Perjanjian Baru adalah deskripsi yang hebat mengenai kasih, pengampunan, ketahanan menderita, kebaikan, dll. Bahkan meskipun Saudara tidak berniat menjadi orang Kristen, mempelajari kebenaran yang telah diungkapkan oleh Allah di dalam Alkitab akan sangat membantu Saudara di dalam menjalani kehidupan. (Tujuan dari pernyataan ini bukanlah mengajak orang untuk memakai Alkitab semata-mata sebagai penuntun hidup yang baik, tetapi mengajaknya untuk mau membaca Alkitab.  Dengan demikian, ia paling tidak akan membaca Firman Allah dan akan mendekatkan dia pada pertobatan karena Firman Allah akan melaksanakan kehendak Allah (Yesaya 55:11).
  5. Alkitab itu sengaja dibuat-buat supaya kelihatannya Yesus telah memenuhi semua nubuatan tentang Mesias. 
    1. Kalau begitu Saudara mengatakan bahwa para penulis Perjanjian Baru telah berbohong mengenai Yesus. Ia sesungguhnya tidak bangkit dari kematian dan semua keajaiban yang dilakukan-Nya adalah palsu, benar?
    2. Saya dapat mengerti maksud anda, tetapi masih ada satu masalah. Bagaimana pendapat Saudara mengenai ajaran-ajaran tentang kebenaran, kasih, kejujuran, memberi, dll. yang ditulis oleh para penulis Perjanjian Baru, apakah juga berdasarkan kebohongan? Untuk apa mereka mengalami kesengsaraan seperti pemukulan, kelaparan, pemenjaraan, dan akhirnya dihukum mati demi kebohongan? Apa yang Saudara katakan sungguh tidak masuk akal dan menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
      1. Penjelasan logis satu-satunya adalah bahwa nubuatan yang digenapi adalah peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian. Ia melakukan mukjizat dan Ia juga mengampuni dosa. Ia mengampuni dosa-dosa pada masa lalu dan Ia masih mengampuni dosa-dosa pada saat ini. Dosa saya sudah diampuni, bagaimana dengan dosa Saudara?
      2. Tolong diperhatikan bahwa banyak anggota kultus juga bersedia mati bagi kepercayaan mereka juga. Tetapi mereka mati untuk sesuatu yang mereka percayai, bukan sesuatu yang mereka lihat sendiri. Muslim, penganut Mormon, Saksi Yehovah semua mati bagi iman mereka. Tetapi pengikut Perjanjian Baru mati untuk apa yang telah mereka lihat dan percayai, bukan untuk apa yang mereka percaya semata. Ini sungguh suatu perbedaan yang besar. Penulis Perjanjian Baru mati dengan mengklaim bahwa mereka telah melihat Tuhan yang telah bangkit. Anggota-anggota kultus mati untuk apa yang mereka percayai dan kita tahu bahwa mempercayai sesuatu tidaklah lalu membuat apa yang dipercayai pasti benar (ada).
  6. Alkitab penuh dengan kontradiksi. 
    1. Benarkah? Ada yang Saudara ketahui? Dapatkah Saudara memberikan saya satu atau dua contohnya?
    2. (Jika ada seseorang yang sungguh-sungguh memberikan contoh mengenai ayat yang dia anggap berkontradiksi, maka terserah kepada Saudara bagaimana memberikan jawaban yang kompeten (1 Petrus 3:15). Jika anda tidak dapat memberikan jawaban, jangan takut. Cukup katakan kepada dia bahwa Saudara akan melakukan riset mengenai hal itu dan akan kembali kepadanya dengan jawaban, dan Saudara harus benar-benar melakukan riset itu dan memberikan jawaban yang kompeten padanya.
    3. Memang ada bagian-bagian tertentu dari Alkitab yang sulit dimengerti. Tetapi hal ini tidak lalu berarti bahwa Alkitab itu tidak dapat dipercayai. Sebuah buku yang sangat bagus untuk dimiliki untuk menolong anda dalam menjawab hal yang sulit ini adalah Encyclopedia of Bible Difficulties karya Gleason Archer, Zondervan Publishing House, (Grand Rapids Michigan).
  7. Bagaimana saya bisa tahu agama mana yang benar? 
    1. (Ini adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab karena harus melibatkan diskusi mengenai prinsip-prinsip yang mungkin tidak dapat diterima oleh orang yang Saudara ajak bicara.  Sebagai contoh, apakah ia setuju bahwa kebenaran dapat diketahui, bahwa Allah akan berusaha untuk berkomunikasi dengan orang-orang-Nya, atau bahwa hanya mungkin ada satu agama yang benar? Biasanya, saya mulai dengan mengakui bahwa agak sulit untuk mencapai jawaban yang gampang. Bagaimanapun, saya akan memberitahu mereka bahwa saya punya jawabannya; saya yakin akan kebenarannya, karena jawaban itu berdasarkan bukti-bukti. Bukti seperti apa? Nubuatan dan penggenapannya (lihat pertanyaan no.34), Yesus dan keajaiban-Nya, kebangkitan Yesus Kristus, dll. Lalu saya bertanya kepada orang itu apakah ia tahu bahwa hal-hal seperti itu terjadi juga dalam agama yang lain.1 Jawabannya biasanya hanya satu, yaitu "Tidak." Lalu saya menunjukkan kepada mereka bahwa bukti-bukti seperti yang saya kemukakan hanya ada dalam Kekristenan. Jika memang ada agama yang benar, Kekristenan memenuhi kriteria yang dituntutnya.
  8. Agama adalah apa saja yang anda rasa benar. 
    1. Bagaimana Saudara bisa tahu bahwa yang Saudara rasakan itu benar? Pernahkah Saudara mengalami bahwa perasaan Saudara ternyata salah? Apakah Saudara mengatakan bahwa apa yang Saudara rasakan itu menentukan kebenaran? Jika begitu, maka Saudara telah menempatkan diri Saudara seperti Allah dan mencari kebenaran berdasarkan "perasaan" Saudara belaka.
    2. Jika agama adalah apa saja yang anda rasa benar maka hal tersebut bisa membawa kepada kekacauan. Bagaimana jika ada sebagian orang yang mempunyai agama di mana mereka merasa bahwa mencuri adalah hal yang dapat diterima? Dan bagaimana dengan berbohong dan berbuat curang? Akankah Saudara mempercayai seseorang yang percaya kepada agama yang merasa bahwa mencuri, menipu, dan berbuat curang itu boleh-boleh saja?
    3. Hitler merasa bahwa membunuh orang Yahudi itu boleh-boleh saja. Ia salah. Alkitab berkata bahwa hati adalah licik dan tidak dapat dipercaya (Yeremia 17:9). Jika Saudara dapat mencapai kebenaran dengan apa yang saudara rasakan, maka Alkitab, yang adalah wahyu Allah, tidak perlu ditulis lagi. Tetapi, Alkitab telah ditulis dan Alkitab telah membukakan bahwa hanya Allah yang merupakan Sumber Kebenaran, bukan perasaan Saudara.
    4. Saya tidak pernah tahu bahwa kebenaran bisa berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Bagaimana jika seseorang merasa bahwa sesuatu itu benar sementara yang lain mengatakan bahwa itu salah? Apakah mungkin mereka berdua kedua-duanya benar? Jika pernyataan Saudara benar, maka bagaimana mungkin sampai ada kontradiksi seperti itu jika perasaan menentukan kebenaran?
  9. Agama-agama hanyalah jalan yang berbeda menuju tempat yang sama. 
    1. Jika semua agama hanyalah jalan yang berbeda untuk menuju tempat yang sama, maka mengapakah jalan-jalan itu saling berkontradisi satu dengan lainnya? Apakah kebenaran berkontradiksi dengan dirinya sendiri? Mari kita lihat sedikit ajaran-ajaran dari tiga agama berikut:
    2. Buddhisme bersifat pantheistik dan mengatakan bahwa tidak ada Allah yang berpribadi dan setiap orang dapat mencapai ke-Tuhan-an (menjadi Tuhan) sendiri.  Islam mengatakan bahwa Yesus hanyalah seorang Nabi dan Ia bukanlah satu-satunya jalan menuju Allah. Kekristenan mengatakan bahwa ada Allah yang berpribadi dan jalan satu-satunya menuju Dia hanyalah melalui Yesus (Yohanes 14:6). Jika ketiga agama di atas, seperti kata anda, adalah jalan yang berbeda-beda menuju satu tempat, mengapa mereka saling berkontradiksi? Apakah kebenaran berkontradiksi dengan dirinya sendiri?
  10. Bagaimana dengan dinosaurus dan evolusi? 
    1. Lihat seksi Evolusi.
    2. Juga, Saudara dapat membaca beberapa buku yang bagus seperti: Evolution The Fossils Say No! karya Duane T. Gish (Creation Life Publishers, San Diego), dan Man's Origin, Man's Destiny karya A. E. Wilder-Smith. Bethany House Publishers, (Minneapolis, Minn.). Kedua buku itu akan sangat membantu Saudara.
    3. Bahkan jika evolusi memang benar (evolusi tidak benar -- saya mengatakan ini hanya sekedar untuk keperluan argumentasi), apakah lalu berarti bahwa tidak ada Allah? Bagaimana Saudara bisa tahu bahwa Allah tidak memakai evolusi untuk menghadirkan kita ke dalam dunia? (Sekali lagi, saya tidak sedang mengajarkan bahwa evolusi itu benar, atau pun bahwa Allah memakai evolusi alias evolusi theistik, saya hanya mengatakan ini untuk keperluan argumentasi saja) Jika Saudara percaya evolusi, apakah itu lalu berarti Saudara bukan orang berdosa? Allah tidak akan menerima alasan dari Saudara bahwa Saudara percaya kepada evolusi dan bukan pada Dia.
    4. Apakah Saudara telah mempelajari sungguh-sungguh evolusi guna melihat apakah evolusi memang benar? Evolusi bukanlah seperti yang dicekokkan kepada Saudara. Ada banyak sekali masalah dengan catatan fosil yang ditemukan. Teori-teori baru dibangun sepanjang waktu untuk membenarkan mengapa sampai tidak ada bentuk-bentuk transisional yang ditemukan di antara berbagai spesies, dalam berbagai tempat dan waktu dalam catatan fosil. Tetapi, Saudara tidak tahu mengenai hal ini karena Saudara belum mempelajarinya sungguh-sungguh. Saudara harus tahu fakta-fakta mengenai evolusi dan Saudara juga perlu tahu fakta-fakta mengenai Yesus.
  • 1. Catatan: Berhati-hatilah. Hanya karena seseorang tidak tahu apakah ada kejadian-kejadian yang mirip dalam agama lain belumlah berarti bahwa memang tidak ada. Saudara harus menegaskan hal ini. Tetapi bagaimana pun, tidak ada agama di dunia ini yang membuat klaim sebagaimana yang dibuat oleh Kekristenan dan dapat mempertahankan klaim-klaim tersebut.

 

 

 

 
 
CARM ison