Apa itu Kritik Redaksional?

Kritik Redaksional atas Alkitab adalah teori yang mengatakan bahwa penyalin-penyalin Alkitab dan komentator-komentator Alkitab yang berbeda-beda telah membumbui dan mengubah-ubah teks Alkitab sejak awal sejarah agama Yahudi dan Kekristenan dengan tujuan untuk membuat Alkitab tampak lebih mengandung mukjizat, berkesan sebagai inspirasi dari Allah dan lebih berwibawa. Salah satu contoh pendapat teori Kritik Redaksional adalah pendapat bahwa nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama telah diubah oleh para redaktur setelah mereka membandingkannya dengan kenyataan guna membuat nubuatan itu seolah-olah suatu nubuatan yang penuh mujizat.  Kritik Redaksional berusaha mengurangi kualitas dari catatan Alkitab, menumbuhkan keraguan bahwa ia adalah inspirasi dari Allah, dan menyatakan secara tidak langsung bahwa Alkitab tidak dapat diandalkan sebagai catatan sejarah.

Awalnya, kritik redaksional hanya dibatasi kepada kitab-kitab injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), tapi kini teori ini kini telah diterapkan ke semua bagian Alkitab.  Norman Perrin dalam bukunya "What is Redaction Criticism?" berkata, "Kewajiban utama dari Kritik Redaksional adalah kemampuan untuk melacak bentuk dan isi dari material yang telah dipakai oleh pengarang atau suatu cara untuk menentukan natur dan jangkauan dari aktivitas pengarang itu dalam mengumpulkan dan menulis, mengatur, mengedit, dan mengkomposisikan karangannya."1

Kritik Redaksional dimulai di Jerman pada awal 1700-an oleh Hermann Reimarus yang waktu itu adalah Profesor dari bahasa-bahasa Oriental di kota Hamburg.  Ia adalah seorang deist yang banyak menulis untuk menentang Kekristenan.  Ia mengajukan pendapat bahwa Yesus adalah seorang yang telah gagal dan murid-murid-Nya telah mengubah cerita mereka dalam upaya membuat Yesus tampak sebagai Mesias dan penuh dengan mukjizat.

Kritik Redaksional kemudian diterima oleh David Friedrich Strauss (1808-74) yang selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa kitab Injil telah dirubah, bahwa Injil hanyalah suatu mitos, dan tidak dapat diandalkan sebagai catatan sejarah.  Kontribusi utamanya terhadap Kritik Redaksional adalah idenya tentang dipakainya kitab Markus sebagai dokumen sumber bagai Matius dan Lukas.2  Wilhelm Wrede (1859-1906) pendukung selanjutnya dari Kritik Redaksional yang berusaha untuk menunjukkan bahwa narasi-narasi sejarah dalam kitab Markus adalah tidak dapat diandalkan.

Beberapa Bukti dan Jawaban atas Kritik ini

Beberapa bukti yang dipakai oleh pendukung Kritik Redaksional adalah bagian akhir dari kitab Ulangan (pasal 34) yang mencatat mengenai kematian Musa walaupun Musa jelas-jelas tidak menulisnya; pengaturan dari kitab Mazmur menjadi 5 bagian adalah hasil karya seorang penyusun; dan kitab-kitab Tawarikh mengatakan bahwa kedua kitab itu ditulis berdasarkan tulisan-tulisan lain yang telah ada sebelumnya (1 Tawarikh 9:1; 27:24; 29:29; 2 Tawarikh 9:29; 13:22; 6:11; 20:34; 25:26; 27:7; 28:26; 32:32; 33:19; 35:27; 36:8).3 Masih ada beberapa bagian lain lagi yang juga dianggap sebagai alasan, tetapi apa yang telah disebutkan di atas sudah mencukupi.

Meskipun memang ada catatan bahwa si penulis Alkitab mengatur dan memberi komentar atas berbagai kejadian, tetapi hal ini tidaklah mengurangi keotentikan atau keandalan dari dokumen-dokumen Alkitab.  Di kalangan para sarjana yang konservatif umumnya mereka sepakat bahwa Yosua mungkin telah menambahkan tulisannya pada bagian akhir dari kitab Ulangan.  Tetapi hal ini tidak lalu berarti bahwa bukanlah Musa yang mengarang kelima kitab Pentatuk.  Demikian pula halnya, hanya mengatur urutan material, seperti pada Mazmur, ke dalam kategori-kategorinya tidaklah akan mempengaruhi nilai inspirasinya, keasliannya, atau pun keandalannya.  Dan, mengutip sumber-sumber lain untuk mengacu pada kejadian faktual juga demikian, tidak akan menyebabkan kitab-kitab Tawarikh menjadi tidak diinspirasikan oleh Allah, atau mengurangi keandalan Alkitab secara keseluruhan.  Penulis yang telah diinspirasi oleh Allah hanya memakai buku-buku lain, yang walaupun bukan inspirasi Allah tetapi akurat, dalam kompilasinya di dalam Alkitab.

Pemutarbalikan lain yang dilakukan oleh kaum Kritik Redaksional adalah dalil/ proposisi adanya redaktur-redaktur yang terinspirasi oleh Allah.  Yaitu, orang-orang yang melakukan kompilasi dan membubuhkan komentar juga telah diinspirasi oleh Allah.  Tetapi, ini bertentangan dengan doktrin bahwa tulisan-tulisan originallah yang telah diinspirasikan oleh Allah.  Kalau tulisan aslinya telah diinspirasikan oleh Allah, tidak perlu lagi tulisan itu dirubah-rubah.  Pendapat Kritik Redaksional yang satu ini secara tidak langsung mengatakan bahwa apa yang tertulis di alkitab itu tidak dapat dipercaya.  Kitab-kitab injil, sebagai contoh, tidak lagi akan  sungguh-sungguh mengandung perkataan Yesus melainkan kata-kata dari para redakturnya yang ingin membumbui dan/atau memodifikasi "cerita-cerita mitos" menjadi sesuatu yang lebih rohani dan seolah-olah diinspirasikan oleh Allah.  Dengan demikian, seolah-olah telah terjadi penipuan karena dokumen-dokumen Alkitab sendiri mengklaim keaslian dan keakuratannya sendiri.

Walaupun tidak termasuk jangkauan dari paper ini, Kritik Redaksional telah dipatahkan oleh bukti-bukti dari keandalan dari dokumen-dokumen sejarah (seperti yang digeluti dalam Kritik Tekstual), fakta bahwa nubuatan dinubuatkan dan terjadi, dan bahwa Alkitab itu secara arkheologis benar-benar akurat.  Dengan adanya ilmu Kritik Tekstual, teks-teks original dari Alktab banyak yang dapat direkonstruksikan lagi dengan akurasi yang sangat tinggi, natur profetisnya dapat diverifikasi, dan terbukti sebagai inspirasi dari Allah.3

  • 1. Perrin, Norman, What is Redaction Criticism?, Philadelphia, Fortress Press, 1969. hal. 2.
  • 2. Ibid., hal. 4-5.
  • 3. Geisler, Norman, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics, Grand Rapids, Michigan, Baker Books, 1999. hal. 636.
 
 

About The Author

Matt Slick is the President and Founder of the Christian Apologetics and Research Ministry.