Perbuatan baik kita seharusnya boleh dilihat orang lain atau tidak?

  1. Memperlihatkan perbuatan baik kita 
    1. (Matius 5:16) - "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
    2. (1 Petrus 2:12) - "Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka."
  2. Jangan memperlihatkan perbuatan baik kita 
    1. (Matius 6:1-4) - "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.  2Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.  3Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu, 4Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
    2. (Matius 23:3, 5) - "Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya....Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;"

Sebagaimana halnya dengan literatur-literatur mana pun juga, cara terbaik untuk memahami maksudnya adalah dengan membacanya berdasarkan konteksnya. Demikian juga dengan Alkitab. Matius 5:16 berada dalam konteks Ucapan Bahagia (Matius 5:1 - 7:29) di mana Yesus mengajarkan tentang perilaku yang bermoral, pantas dan baik. Murid-murid Yesus adalah terang; yakni, pelaku kebajikan. Demikian juga 1 Petrus 2:12 adalah ayat di mana Petrus mengingatkan orang-orang Kristen agar hidup suci dan taat di hadapan orang-orang tidak percaya.  Kita sebagai orang Kristen hidup di dunia di antara orang-orang tidak percaya dan mereka akan melihat bagaimana kita menjalani hidup ini. Petrus menasihatkan supaya kita hidup dalam kebenaran dan kesucian di hadapan orang-orang yang belum percaya sehingga ketika fitnah dilontarkan kepada kita, fitnah itu akan gagal karena kita telah hidup secara baik dan suci.

Sebaliknya, Yesus dalam Matius 6:1-4, yang mana masih berada dalam konteks Ucapan Bahagia di mana Ia memerintahkan orang-orang supaya terang mereka bercahaya di hadapan orang lain (5:16), menyatakan bahwa jika motivasi dalam melakukan suatu kebajikan hanyalah agar supaya bisa dilihat dan dipuji orang, lebih baik jangan melakukan kebajikan itu. Jangan membual tentang betapa "baik"nya engkau di hadapan orang-orang. Ini adalah hal yang salah. Tidak ada yang salah dengan melakukan kebaikan yang kelihatan di hadapan orang-orang. Tetapi, sewaktu Anda melakukan kebajikan, jangan lakukan itu semata-mata untuk menarik perhatian orang tentang betapa "baik"nya engkau.

Demikian juga dalam Matius 23:3,5 Yesus berbicara di hadapan orang banyak dan mengajarkan kepada mereka mengenai betapa munafiknya Ahli Taurat dan orang Farisi dan betapa mereka melakukan perbuatan-perbuatan mereka hanya supaya diperhatikan orang lain dan dipuji mereka. Yesus mengecam hal ini.

Orang-orang mestinya akan melihat perbuatan baik Anda karena karakter baik dari diri Anda merembes ke dalam perbuatan tersebut, bukan karena niat Anda agar orang lain tahu betapa "baik" dan "agung"nya Anda. Perbuatan yang tidak ditujukan untuk dilihat orang lain adalah yang bersifat rendah hati dan baik. Yang ditujukan agar orang lain melihat dan memuji Anda adalah yang sombong dan salah. Konteks dari tiap ayat di atas menjelaskan kepada kita maksud dari masing-masing ayat.

 

 

 

 
 
CARM ison