Menjawab Hipotesa Dokumentari

Bukanlah maksud saya untuk menyerang karakter mereka yang telah mengajukan Hipotesis Dokumentari.  Tetapi Alkitab berkata pada Roma 1:18-21 bahwa manusia menindas kebenaran Firman Allah karena kefasikan mereka. Hal inilah yang terjadi di sini. Mereka menindas kebenaran. Mereka menciptakan metode yang panjang lebar untuk menolak keotentikan Alkitab dan prinsip bahwa Alkitab itu diinspirasikan oleh Allah, terutama kelima kitab Musa.  Bagaimanapun, ada beberapa isu yang perlu diperhatikan ketika menjawab klaim-klaim mereka.

1. Presuposisi-presuposisi (Presuppositions):

Mayoritas mereka yang memegang teori JEDP ber-presuposisi bahwa keajaiban tidak mungkin terjadi. Karenanya, mereka harus berkesimpulan sebelumnya bahwa Pentatuk bukanlah hasil inspirasi Allah dan Musa tidak mungkin telah menulisnya. Mereka harus menemukan penjelasan lain mengenai pengarang dari kelima kitab pertama Alkitab tersebut.

Presuposisi seperti ini tidak memungkinkan analisa yang memadai atas dokumen-dokumen dan akan mengakibatkan kesimpulan yang tidak akurat.

2. Para pengkritik mengklaim banyak hal.

Pentatuk ditulis berabad-abad yang lalu dalam bahasa yang berbeda dari para pengkritik, dalam suatu kebudayaan yang berbeda, dan di suatu negeri yang berbeda pula. Para pengkritik mengklaim bahwa "mereka dapat memutuskan secara tepat apa yang seorang penulis dapat atau tidak dapat katakan, dan berdasarkan hal itu menetapkan bagian mana dari suatu dokumen yang merupakan karya penulis itu dan mana yang bukan."1 Dengan kata lain, para kritikus mendasarkan argumen mereka pada kemampuan mereka untuk membaca suatu dokumen yang telah berusia 3000 tahun, membagi-baginya dalam kelompok berdasarkan pemakaian kata, dan menyatakan dengan tegas ada pembagian yang tersembunyi, dan pengarang-pengarang yang berbeda telah mengarang bagian-bagian yang berbeda itu. Bukan hanya ini, mereka juga mengklaim bahwa mereka dapat melakukannya secara konsisten. Klaim ini sungguh sulit dikategorikan sebagai sains yang eksak dan sangat terbuka terhadap berbagai kekeliruan tergantung pada presuposisi dan maksud dari para kritikus.

3. Perubahan gaya penulisan dalam karya seorang Pengarang

Apakah seorang penulis menulis dalam gaya yang konsisten? Ya, ada gaya-gaya tertentu yang menjadi ciri penulis-penulis, tetapi pokok bahasan sangatlah menentukan isi . Sebuah karya teknis akan berbeda dari tulisan naratif atau sejarah.  Pentatuk memiliki semua komponen itu.   Karenanya, gaya penulisan yang berbeda pasti terjadi.

Tambahan lagi, apa yang sedang berada di benak penulis akan dengan mudah membuat ia menggunakan konsentrasi kata-kata yang berbeda. Begitu maksud penulisan berubah, berubah pula pemakaian katanya. Apakah Musa cukup sekali duduk lalu kesemua kitab Pentatuk tertulis semua? Tentu tidak. Melalui perenungan, pembacaan, doa, dll., fokus dan maksudnya dalam tiap seksi Pentatuk dapat berubah begitu ia memasuki pokok bahasan baru.

4. Seorang penulis dapat menimbulkan berbagai hasil analisa yang berbeda

Program WordPerfect memiliki Grammar Analyzer (Analisa Tata Bahasa) untuk membantu kemudahan pembacaan dan pemahaman. Saya coba menjalankan program ini pada kedua paper saya mengenai Dokumentari Hipotesis dan Jawaban atas Dokumentari Hipotesis agar kedua tulisan saya itu dianalisanya. Hasilnya sungguh menarik.

Kita jadi seolah-olah bisa menyimpulkan bahwa meskipun ada kemiripan, tetapi karena ada perbedaan yang juga nyata, maka kedua paper saya itu telah dikarang oleh 2 orang yang berbeda.  Paper pertama lebih banyak kalimat yang kompleks dan menggunakan perbendaharaan kata yang lebih kompleks daripada yang kedua dan dikategorikan pada tingkat kesulitan 13.  Lucunya adalah, saya menulis kedua paper ini pada dua kesempatan yang berbeda:  yang pertama sebelum berangkat ke gereja dan yang kedua setelah pulang dari gereja pada hari yang sama.

5. Sekilas pandang atas analisa yang telah dilakukan oleh kaum Hipotesis Dokumentari

Pada bagian belakang buku Oswald T. Allis, pada halaman 291-293, terdapat detail dari analisa JEDP atas Pentatuk. Saya pilih sebagian kecil yang membahas Kejadian 1-7 dan menambahkan ayat-ayat yang berhubungan (untuk terjemahan Indonesia memakai Alkitab Terjemahan Baru dari LAI) agar anda dapat melihat sendiri apakah memang pembedaan kepengarangan yang dibuatnya itu layak atau tidak.

Seperti yang dapat anda lihat sendiri, ketujuh pasal pertama dari kitab Kejadian dipecah-pecah menjadi bagian-bagian kecil. Pada bagian tertentu, kalimat dipotong menjadi dua dan dikatakan bahwa itu berasal dari 2 sumber yang berbeda. Saya tidak melihat adanya  alasan yang pantas mengapa bagian itu sampai perlu dipecah-pecah sedemikian rupa.

6. Yesus mengatakan bahwa kelima kitab Pentatuk itu dikarang oleh Musa

Apakah kata-kata Yesus mau atau tidak dipertimbangkan oleh para kritikus, itu adalah tergantung pada pendapat mereka masing-masing. Tetapi Yesus sendiri pun telah mengatakan bahwa yang mengarang kelima kitab Pentatuk itu adalah Musa. Yesus membagi Perjanjian Lama dalam 3 bagian di Lukas 24:44: Kitab Taurat Musa dan Kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Juga, Ia mengatakan bahwa semua bagian-bagian yang dianggap berasal dari JEDP dari Pentatuk sebagai tulisan Musa.

Dalam Markus 10:4-8, Yesus mengutip Kejadian 2:24, yang menurut kaum Hipotesis Dokumentari ("HD") berasal dari J, sebagai berasal dari Musa. Di Markus 7:10, Yesus mengutip Sepuluh Perintah Allah, yang dianggap kaum HD berasal dari E, sebagai berasal dari Musa. Dalam Markus 10:3, Yesus merujuk ke Ulangan 24:1, yang dianggap kaum HD dari D, sebagai berasal dari Musa. Dalam Matius 8:4, Yesus mengutip Imamat 14, yang dianggap kaum HD berasal dari P, sebagai berasal dari Musa.

Tulisan ini hanya peninjauan sekilas atas Hipotesis Dokumentari. Menurut pendapat saya, itu adalah hasil dari presuposisi yang keliru dan analisa yang tidak akurat. Pendapat ini bertentangan dengan apa yang telah dikatakan oleh Yesus dan merupakan cara yang tidak dapat diandalkan untuk menganalisa suatu dokumen yang telah berusia ribuan tahun.

  • 1. Oswald T. Allis, The Five Books of Moses, Presbyterian and Reformed Publishing Co., Phillipsburg, New Jersey, 1949, p. 70.

 

 

 

 
 
CARM ison